Friday, May 18, 2012

Serpihan Hati yang Terluka


Sebuah kesalahan
Ketika kubiarkan hatiku terbang
Hingga seorang penyamun menangkapnya
Bodohnya ku biarkan walau tanpa kerelaan
Kini aku dibuat gusar, segusar liuk-liuk angin
Musim dingin menari-nari penuh syahwat,
bak malaikat sekarat
Kembalikan hatiku….
Kembalikan hatiku…
Kembalikan hatiku…
Celakanya, kini hatiku terlanjur jatuh cinta
Pada sang penyamun yang menangkapnya
Hingga hati meninggalkan
Diriku sendiri, terkapar tanpa hati
Tanpa nadi, sekarat menunggu mati…


Adzim merebut selembar kertas yang ku pegang erat.
"Adzim kembalikan!"
Aku berlari kecil mengejar adzim. Adzim terus berlari. Dan langkah kakiku yang tak mampu mengejar langkahnya, tertinggal di belakang.
"Adzim kembalikan!" jeritku berharap ia menghentikan langkahnya. Aku mulai putus asa mengejarnya. Nafasku naik turun. Dadaku sesak. "Adzim…kembalikan!" ku ulang lagi teriakanku. Ku buat suaraku sedikit memelas. Adzim kembalikan…harapku.
Langkah Adzim terhenti. Nafasnya juga terengah-rengah. Sekarang ia berjalan menuju tempatku. Di bukanya kertas yang direbut dari tanganku. Ia membacanya tanpa suara. Hatiku menangis. Tersayat sakit.
"Buat siapa puisi ini Ma?" tanyanya.
Aku diam, membisu.
Adzim menunggu suaraku.
Buat orang yang merebut puisi itu dari hatiku. Batinku.
@@@@
"Irma ni…" Adzim menyodorkan kertas berwarna merah jambu padaku. "Apa ni?"
"Puisi terbaruku, ku buat pada waktu pelajaran Fisika tadi."
Aku membuka kertas itu.
Untuk cinta
Entah bagaimana kumaknai artinya
Hakikatnya
Kehadirannya
Kau telah mangambil separuh nyawaku
Lewat senyummu yang sayu
Kau telah mengambil separuh nyataku
Dalam diammu yang lebih bermakna surga
………………..
"Gimana?", Adzim selalu menanyakan nilai puisinya padaku.
"Seperti penilaian biasanya, dunia seisinya terangkai dalam kata-katamu. Seratus koma seratus!"
"Kamu bisa aja! Aku ke kantin dulu. Mau ikut?" tawarnya. Aku menggeleng sambil mengacungkan buku di tanganku. Berkata lewat isyarat, "Aku ingin menyelesaikan ini."
Adzim melenggang meninggalkanku sendiri. Mataku belum juga mau lepas dari bayangannya. Buku di tanganku terkalahkan oleh bayangannya. Entahlah, sejak aku menyukai puisi-puisinya secara tak sadar hatikupun hilang bersama puisi-puisi yang dituliskannya. Membawa jiwaku bernafas bersama tiap kata yang diurainya menjadi nyanyian-nyanyian surga di detak jantungku.
@@@@
"Kak Irma makan yuk!" ajak Irna. Adekku yang umurnya hanya bertaut setahun denganku. Orang-orang banyak mengira kami kembaran.
"Kakak masih kenyang, duluan."
"Yach, kan nggak seru makan sendirian." Rajuknya manja.
Itulah Irna ia paling benci makan sendiri. Apalagi Ibu bapak  saat ini belum pulang. Pernah ia nggak makan seharian menunggu  kami pulang. Waktu kami menanyakan kenapa ia tak makan duluan, dengan santainya ia berujar, "Kak, masalahnya, nafsu makan itu terletak di kebersamaan…" padahal saat itu wajahnya telah pucat pasi menahan lapar. Irna memang sulit makan. Waktu ia kecil ibu  sering mencekokinya obat nafsu makan yang katanya super pahit, terbuat dari daun pepaya yang ditumbuk. Dan akibatnya saat ini Irna mempunyai maag yang lumayan akut.
"Kak…."desaknya lagi.
Akupun beranjak. "Iya….iya….."
"Kak ke beranda yuk!" Selesai makan Irna mengajak ke beranda.
Akupun mengiyakannya. Malam ini langit cerah. Kami berdua paling senang bertamasya ke langit.
  
Di luar bulan purnama benderang. Bintang-bintang bertebaran luar biasa meriahnya. Menghiasi malam.
  "Kak, melamun mulu! Nglamunin siapa sih? Adzim?"
Aku membelalakan mata. Bagaimana Irna tahu? Batinku.
"Apa sih yang Irna nggak tahu dari seorang kakak tersayang." Irma menepuk dadanya. Nafasnya mendengus sombong. Aku membalasnya dengan cibiran. Membentuk segaris senyum yang tak simetris.
"Adzim...Adzim…" Irna bergunam tipis dengan terus mengulang-ulang nama seseorang yang demi mendengar namanya dadaku bergetar dahsyat. Mata Irna menerawang jauh ke langit. Menyusul benderang bulan dan ribuan kerlip bintang. Seakan mencari ilham di balik sebuah nama yang mengaduk-aduk hatiku.
"Adzim...Adzim..."Irna mengulang nama itu lagi. Aku semakin penasaran atas tingkahnya.
"Apaan sih…." Walaupun aku berusaha untuk tetap cuek terhadap sikapnya. Tapi kata-kata penasaraan akhirnya terlontar juga.
Irna meluruskan pandangannya menatapku. Seakan mencari sesuatu di mataku.
"Kak, apa sih yang istimewa di Adzim. Dia tu nggak gitu tampan. Malah sikapnya super dingin. Kalo jalan nggak suka lihat orang. Jarang senyum. Paling sama kakak aja murah senyum. Karena kakak sering minjamin buku ke dia. Aku heran jika kakakku yang nggak kenal cowok bisa bersimpati sama cowok dingin kayak dia….paling kelebihannya….Irna memutar-mutar matanya yang bulat kelereng. Aku semakin tak sabar menunggunya menyelesaikan ucapannya, "Pujangga….ya…itu aja", lanjutnya sambil manggut-manggut.
Bagiku dia lain dari yang lainnya. Dalam diamnya yang menyimpan kewibawaan. Dan yang pasti cinta tak butuh alasan. Sanggah hatiku.
"Kak, tahu nggak rahasia seorang pujangga?"
Aku menyerngitkan dahi. Mulai serius menatap mata adekku yang juga terpancar serius.
"Menurut penelitianku…." Irna memulai kata-katanya seperti ucapan kaum genius yang mempresentasikan hasil temuan terbarunya.
"Kaum pujangga itu cuma bisa bicara lewat kata-kata yang ditulisnya. Mereka hanya bisa romantis lewat kata-katanya itu. Mereka hanya mengenal cinta agung lewat torehan syair-syairnya. Buktinya, Adzim. Ia tak pernah kongkrit dengan puisi-puisinya. Untuk siapa puisi itu. Dikasih ke siapa puisi itu. Pujangga itu hanya bercinta lewat maya…. Nggak ada kongkritnya….kayak cerpen-cerpennya, ngayal…" Irna mengakhiri ucapannya dengan hambar. Sehambar hatiku saat ini. Aku mulai terpengaruh ucapan Irna. Benarkah seperti itu?
"Karena pujangga telah mengawini cinta lewat syair-syairnya…." Lanjutnya.
"Sok tahu kamu!buktinya Rosul menyuruh kita belajar sastra. Sastra itu bukin hati lembut dan pengasih. Hati-hati kalo ngomong, bisa didemo para pujangga tau rasa kamu!"
"Buktinya kakak percaya wek!" Irna menjulurkan lidahnya sambil mencubit pipiku. Ia berlari kencang sebelum aku beranjak mengejarnya.
Di langit bulan menertawaiku. Seakan sepakat dengan kata-kata Irna.
Uuhhhhh……
@@@@
"Aku tunggu komentarmu. Aku ke perpus bentar!"
Sosok Adzim tertelan di dalam puluhan siswa lainnya yang melangkah senada dengan arahnya. Aku kelelahan mengikuti bayangnya.
Ku buka selembar kertas yang barusan di sodorkannya padaku.
Belum membacanya saja dadaku gemuruh. Entah kenapa.

Sedahsyat anggur
Kau tawan cintaku, yang telah mencandu olehmu
Hingga malam yang gelap hanyalah berisi dirimu
Dan pagi yang terang adalah harapan nyatamu
Sungguh, cintamu
Mengubahku menjadi Qois kedua
Yang gila oleh Lailanya, dan Lailaku adalah dirimu
Hingga setiap nafas yang terhembus
Adalah syair-syair cinta yang tiada habisnya
Dan cintamu yang mendenyutkan syair-syair itu
Dengan cintamu pula
Yang menyawakan,
Menghidupkan nyanyian asmara itu
…………
Tiba-tiba ucapan Irna berhembus. Membisik telingaku. Selayak  sepoi yang menyanyikan lagu pada dedahunan. Aku mendesah pasrah.
"Aku kembali…"
"Hellow…hellow…tuan putri…" Entah dari arah mana, Adzim begitu saja muncul di depanku.
"Gimana?"
"Gimana apanya." Tanyaku dengan nyawa yang separuhnya masih di alam lamunan.
"Puisiku…"
"Puisimu mengambil hatiku", gunamku.
"Apa?" tanya Adzim minta diperjelas.
"Eh, tidak…tidak…bagus…emm…"aku menjentik-jentikan jariku ke bibir. Mencari nilai yang pas buat puisi Adzim. Tepatnya mencari sesuatu yang aku sendiri tak tahu kenapa aku harus diam seperti saat ini.
"Ma, boleh aku ngomong…" Muka Adzim terpahat serius begitu juga sorot matanya.
Adzim terlihat begitu kesusahan melanjutkan ucapannya. Matanya gusar. Sikapnya mulai salah tingkah. Mulutnya menganga mengatup. Mau bicara tetapi tertelan kembali ke alam pikirannya. Ia menarik nafas kuat. Mencari kekuatan.
"Aku ingin minta tolong padamu…." Ucapan Adzim kembali terpotong. Ia kembali menarik nafas.
 "Aku ingin minta tolong padamu, untuk ngasih puisi-puisiku pada Irna…"
Mulutku terkatup erat. Dadaku berhenti berdetak. Kembalikan semuanya…. Bisik nyawaku yang mulai merenggang dari ragaku.

Cairo 29Agusts 08
By: Darul Istianah

No comments:

Post a Comment