Wednesday, July 25, 2012

Hukum Menentukan Awal Bulan Ramadhan Dengan Cara Hisab?


Pertanyaan:
Bolehkan menentukan awal bulan Ramadhan atau awal bulan Syawal dengan cara hisab untuk memudahkan kaum muslimin yang hidup di negara-negara Barat? Bagaimana hukumnya menurut syariat?
Jawaban:
Menurut syariat, melihat bulan dengan mata kepala adalah cara utama untuk menentukan awal bulan hijriyah. Hal itu sesuai dengan firman Allah Swt.,
“Oleh karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka dia wajib berpuasa.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Juga sabda Rasulullah,
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ
“Berpuasalah jika kalian melihat bulan, dan berbukalah jia kalian melihat bulan.”[1]
Tidak diragukan lagi bahwa bulan merupakan fenomena alam yang tetap dan bisa dilihat dengan mata kepala selama syarat-syaratnya telah terpenuhi. Selain itu, ia juga bisa dilihat dengan sarana-sarana ilmiah yang telah disepakati, dan sekarang sudah tidak asing lagi bagi orang-orang yang ahli dalam bidang yang satu ini. Yang mana, semua orang, baik kaum muslimin maupun yang lainnya telah mengetahuinya. Karena datangnya awal bulan merupakan fenomena ilmiah yang sudah diyakini kebenarannya oleh para ahli astronomi.
Berdasarkan hal itu, boleh hukumnya menentukan awal bulan dengan hisab (hitungan) untuk mengetahui awal bulan Ramadhan, bulan Syawal, dan bulan-bulan arab lainnya, untuk memudahkan kaum muslimin di seluruh dunia.


[1] HR. Abu Hurairah, Kitab: ash-shaum, hadis no. (1776).

No comments:

Post a Comment